Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan orang Sunda bersifat parental atau bilateral yaitu hak dan kedudukan anggota keluarga dari pihak ayah maupun dari pihak ibu sama. Orang Sunda memperhitungkan keturunannya melalui garis ayah dan juga garis ibu. Kedudukan suami-istri dalam perkawinan sama derajatnya. Hukum waris (mengenai harta benda) dilaksanakan melalui kedua belah pihak dan kedua garis keturunan.

Berkeluarga bagi orang Sunda bukanlah hanya merupakan pertemuan antara suami dan istri, melainkan juga pertemuan antara keluarga suami dan keluarga istri. Mereka semua merupakan keluarga besar, hubungan mereka terkait karena pertalian darah yang disebut sakocoran.

Sistem kekerabatan orang Sunda meliputi hubungan ke atas dan ke bawah sampai tujuh tingkatan serta juga ke samping. Walaupun begitu, hubungan keluarga yang dekat dan akrab hanya sampai tingkatan ketiga, karena jarang seseorang menyaksikan keturunan sampai tingkatan keempat atau lebih dan kalaupun terjadi kebanyakan sudah terpencar jauh tempat tinggalnya. Hubungan ke atas secara berturut-turut adalah : bapa–indung (ayah–ibu), aki–nini (kakek–nenek), buyut (cicit), bao, janggawareng, udeg-udeg dan gantung siwur. Adapun hubungan ke bawah secara berturut-turut adalah : anak, incu/putu (cucu), buyut (cicit), bao, janggawaeng, udeg-udeg dan gantung siwur.

Istilah sebutan/panggilan lain dalam sosial kekerabatan orang Sunda di antaranya :

Berikan Komentar

E-mail Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang bertanda bintang harus diisi !

*