Sistem Kepemimpinan

Sistem kepemimpinan dalam masyarakat Sunda dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu

(a) kepemimpinan kenegaraan dan

(b) kepemimpinan keagamaan (Edi S. Ekadjati, 1991).

Kepemimpinan kenegaraan ialah kepemimpinan yang terbentuk berdasarkan tugas, kewajiban dan wewenang mengelola negara atau kelompok masyarakat tertentu. Dalam masyarakat Sunda kepemimpinan kenegaraan paling atas pernah dipegang oleh raja pada masa pengaruh kebudayaan Hindu (abad ke-5 sampai dengan abad ke-16), sultan pada masa pengaruh Islam (abad ke-15 sampai awal abad ke-19) dan bupati (sejak abad ke-17 di Priangan dan abad ke-19 di Banten dan Cirebon), sedangkan paling bawah dipegang oleh kepala desa yang juga disebut lurah di priangan, kuwu di Cirebon dan jaro di Banten. Mereka adalah pemimpin di tempatnya masing-masing yang mengatur kehidupan bernegara,bermasyarakat,dan kehidupan duniawiah lainnya.

Dalam kehidupan sehari-hari mereka menonjol sebagai pemimpin dan mempunyai kekuasaan besar.

Dalam melaksanakan tugasnya mereka mempunyai tempat kegiatan sendiri seperti (keraton bagi raja dan sultan, pendopo bagi bupati, bale desa bagi kepala desa), juga pakaian dinas, perlengkapan dinas dan symbol serta sejumlah pembantu.

Kepemimpinan keagamaan ialah kepemimpinan yang terbentuk berdasarkan penguasaan ilmu agama dan berperilaku sesuai dengan norma dan nilai keagamaan. Dalam masyarakat Sunda kepemimpinan keagamaan dipegang oleh tokoh-tokoh agama seperti ulama/kiai/ajengan bagi pemimpin agama Islam atau pendeta bagi tokoh agama Kristen. mereka umumnya mempunyai pengikut atau murid dan memimpin suatu lembaga pendidikan agama, seperti pondok pesantren pada agama islam.

Pemimpin agama sering diminta nasehat, pendapat, memimpin do’a dalam upacara–upacara yang bersifat kenegaraan dan kemasyarakatan oleh pemimpin negara dan masyarakat pada umumnya.

Seorang pemimpin agama dapat mengembangkan kepemimpinannya menjadi pemimpin negara / masyarakat dapat mengembangkan pribadinya menjadi pemimpin agama juga.
Sebagai contoh Sunan Gunung Jati menjadi pemimpin agama juga kepala negara yang berkedudukan di Cirebon dan sangat berpengaruh di wilayah Jawa Barat pada abad ke 15/16 Masehi (bahkan pengaruhnya hingga sekarang). Itu semua berkat penguasaan yang luas dalam menekuni ilmu agama Islam, mempelopori penyebaran agama dan menegakkan kekuasaan Islam di wilayah Jawa Barat. Sedangkan sultan-sultan Cirebon dan Banten selanjutnya menjadi pemimpin cenderung karena keturunan sunan Gunung Jati ( Edi S. Ekajati, 1991).

Model kepemimpinan masa kerajaan Islam tercermin dalam kehidupan di keraton – keraton Cirebon (Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan). Walaupun sudah tidak memiliki kekuasaan lagi, namun bagi kalangan masyarakat tertentu sultan – sultan Cirebon tetap dianggap sebagai pemimpin mereka secara tradisional.

Diantara para pemimpin agama ada juga yang menjadi pembantu tetap pemimpin negara mulai tingkat paling atas hingga tingkat paling bawah. Sebaliknya, pemimpin negara /masyarakat selalu berusaha untuk membantu dan melindungi pemimpin agama. Semua itu dimaksudkan agar tugas dan fungsi masing-masing berjalan lancar dan terus berlanjut.

Kepemimpinan dalam masyarakat Sunda bisa diperoleh melalui upaya kepeloporan dan keunggulan individual (seperti para pendiri dan para pencipta), keturunan (raja, bupati, pemimpin pesantren dan pemimpin kelompok masyarakat tertentu) dan pemilihan (Gubernur, bupati, Kepala desa, Ketua Organisasi dan lain-lain).

Disamping itu calon pemimpin itu sendiri memiki pengetahuan, pengalaman, karakter, kemampuan lahir bathin dan kekayaan. Kelebihan individual tersebut sering ditambah dengan memiliki alat perlengkapan tertentu yang dipercayai mengandung kekuatan gaib/magis, seperti kujang, keris, batu, piagam/besluit, naskah/kitab, mahkota, gamelan dan lain-lain.

Ada beberapa kriteria untuk memandang seseorang menjadi pemimpin ideal menurut orang Sunda di antaranya yaitu ada kemauan dari dirinya sendiri, sehat jasmani dan rohani, memelihara kesempurnaan beragama dan ajaran leluhur, tebal iman, rajim tekun, tawakal, tangkas, pintar, ,memiliki kepandaian, teliti, bersemangat, bijaksana, berani, tulus hati, tidak sombong, suka mengalah, untuk kebaikan, murah senyum, berseri hati, sayang pada yang lebih rendah, adil, sederhana, halus budi bahasanya mantap bicara dan menjunjung tinggi keutamaan.

Berikan Komentar

E-mail Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang bertanda bintang harus diisi !

*