Tata Krama

           Tatakrama merupakan pola bergaul yang baik menurut suatu masyarakat budaya tertentu. Tatakrama yang dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat terdiri dari aturan-aturan yang apabila dipatuhi diharapkan akan tercipta interaksi sosial yang tertib dan efektif dalam masyarakat yang bersangkutan.

Tatakrama yang diturunkan dari generasi ke generasi akan selalu disertai perubahan – perubahan, sejalan dengan tuntutan keadaan lingkungan sosial dan jamannya (Edi S. Ekadjati, 1991). Demikian juga dalam tatakrama Sunda yang telah mengalani berulangkali perubahan. Salah satu ungkapan tentang nasehat tatakrama dalam masyarakat Sunda yaitu : sing hade rara hade basa, ulah goreng gogog goreng tagog artinya hendaknya berbudi bahasa baik, jangan berprilaku buruk.

Bentuk tatakrama yang dipakai ditentukan oleh waktu dan tempatnya, bentuk hubungan tingkatan sosial, umur dan kekerabatannya. Tatakrama masyarakat Sunda diwujudkan melalui:

  1. Penampilan yang berkenaan dengan gerak – gerik anggota badan;
  2. Penggunaan undak-usuk basa (tingkatan bahasa);
  3. Pergaulan, yang berkenaan dengan manusia sebagai makhluk individual dan sosial yang memerlukan komunikasi satu dengan yang lainnya;
  4. Perlengkapan diri, yang berkenaan dengan perlengkapan yang dipakai seperti pakaian, tempat duduk, ruangan kendaraan;
  5. Kebersamaan dalam hidup bermasyarakat, yang berkenaan dengan kenyataan bahwa orang Sunda berada di tengah-tengah masyarakat majemuk di antara suku bangsa dan bangsa lainnya.
           Segala macam komunikasi sosial atau pergaulan hidup manusia Sunda sudah mengenal tatakrama, misalnya ;
  • Berbicara (dengan teman, saudara, orang tua, guru, atasan, tamu dan lain – lain);
  • Makan (di tempat orang yang dihormati, restoran, tempat undangan, bersama mertua, tamu yang baru dikenal);
  • Menggunakan bahasa (halus sekali, halus sedang, kasar, kasar sekali), intonasi/lagu berbicara (pelan, keras, berirama, datar);
  • Gerak tubuh (muka berseri, posisi tangan kedepan atau ke samping atau sambil mengedepankan ibu jari atau telunjuk, badan tegak atau bungkuk.
           Tatakrama dilingkungan menak atau terhadap menak bersifat rumit, sedangkan tatakrama di lingkungan cacah atau terhadap cacah bersifat sederhana. Pada umumnya orang yang lebih tinggi tingkatan sosial, umur dan hubungan kekerabatannya dihormati oleh orang yang lebih rendah tingkatan sosialnya, umur dan hubungan kekerabatannya. Makin tinggi tingkatan sosialnya makin tinggi pula bentuk penghormatannya.

Penghormatan kepada orang yang lebih rendah tingkatan sosial, umur dan hubungan kekerabatannya dilakukan dengan sederhana. Sebagai contoh, jika seorang murid sedang berbicara dengan gurunya, maka hendaknya memakai bahasa halus, suara berbicaranya lebih pelan dari gurunya, muka berseri marahmay, badan agak di condongkan ke depan, berpakaian rapih. Jika sebaliknya, seorang guru akan menggunakan bahasa sedang dalam berbicara dengan muridnya, suarannya lebih keras, tempo bicaranya lebih cepat, badan tak perlu dicondongkan, berpakaian biasa pun boleh asal sopan.

Berikan Komentar

E-mail Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang bertanda bintang harus diisi !

*